Tiba-tiba sudah mau Ramadhan…
Dan, setiap Ramadhan datang, saya biasanya punya niat yang sama: “Tahun ini harus lebih baik.”
Saya yakin kamu juga pernah bilang itu ke diri sendiri…
Dan jujur, saya selalu semangat di awal. Hari 1–3 biasanya rapi. Sholat terasa lebih ringan. Tilawah jalan. Hati juga lebih adem.
Tapi setelah itu… hidup mulai “balik normal”.
Saat kerjaan numpuk. Jadwal jadi geser. Badan mulai capek. Grup chat ramai. Scroll yang tadinya sebentar jadi lama. Dan entah kenapa, pelan-pelan saya mulai kehilangan ‘pegangan’.
Bukan berarti saya berhenti ibadah. Tapi saya mulai sering bilang:
“Nanti aja.”
“Besok aku rapihin.”
“Yang penting niatnya.”
Sampai suatu malam, saya kepikiran hal sederhana:
“Kalau saya benar-benar ingin Ramadhan ini lebih baik… saya harus punya cara untuk jaga ritmenya, bukan cuma semangatnya.”
Karena yang bikin Ramadhan terasa “berhasil” itu bukan satu hari yang kuat, tapi bisa bertahan pelan-pelan sampai akhir.
Momen yang Bikin Saya Mulai Bikin Tracker
Ada satu hari—saya ingat—saya merasa sudah jalanin beberapa formula yang bikin saya lebih “produktif”. Dan, rasanya hari itu memang terasa beda.
Tapi malamnya saya coba mengingat:
Sholatnya tadi tepat waktu semua nggak ya?
Tilawahnya sudah berapa halaman?
Dzikir pagi petang kepake atau kelewat?
Tarawihnya gimana?
Saya bingung sendiri.
Saya bukan lupa karena nggak peduli. Tapi karena hari itu padat. Dan ternyata, tanpa catatan kecil, kita gampang merasa “sudah”, padahal belum tentu.
Dari situ saya mulai bikin sesuatu yang simpel. Bukan aplikasi canggih. Bukan sistem rumit. Cuma lembar tracking yang bisa saya isi cepat.
Tujuannya cuma satu:
Biar saya bisa jujur sama diri sendiri, dan bisa evaluasi tanpa drama.
Kenapa Saya Tetap Bikin Ini “Sederhana”
Saya nggak pengin ibadah jadi angka-angka. Saya juga nggak pengin merasa “paling rajin”.
Tracker ini justru saya buat karena saya sadar: saya sering bolong.
Jadi saya bikin format yang realistis, yang saya bisa isi walau cuma 2–3 menit.
Dan ini, 2 poin yang saya tekankan untuk diri sendiri:
- Sholat fardhu tepat waktu di Masjid (ini pondasinya)
- Progress tilawah yang jelas (biar nggak ngambang)
Untuk tilawah, saya bikin target yang saya rasa masuk akal:
- 5 halaman setiap selesai sholat fardhu
- (berarti 25 halaman/hari)
Saya tahu setiap orang beda ritmenya. Tapi ini target yang saya pilih untuk diri saya.
Makanya, saya bikin tracker ini bisa kamu atur setting-nya sesuai yang kamu mau!
Selain itu, ada juga kolom penguat:
- Tarawih & witir
- dzikir/doa
- shalawat & istighfar (target harian)
- sedekah, qiyamul lail, ilmu/kajian
- dan catatan singkat (kadang satu kalimat aja cukup)
Kenapa Saya Putuskan untuk Berbagi tentang ini ?
Awalnya sih, ini murni untuk saya.
Tapi setelah jadi, saya pikir:
“Mungkin ada orang lain yang juga lagi berusaha—dan butuh alat sederhana untuk bantu konsisten.”
Bukan karena kita kurang iman. Tapi karena sadar kita ini manusia. Iman bisa naik dan turun juga. Dan kita ini gampang kebawa ritme harian.
Betul nggak ?
Kalau ada alat yang bisa bantu kita balik lagi ke jalur saat mulai goyah… kenapa nggak?
Jadi saya bagikan ini gratis. Silakan dipakai.
Download Tools-nya di Sini
Saya buat 2 versi supaya fleksibel:
- PDF (Manual) — bisa diprint, diisi pakai pulpen. Bayangan saya sih, biar bisa ditempel di dinding, langsung coret-coret buat updatenya di situ.
- Excel / Google Sheets — bisa rekap otomatis (ada progress mingguan, hari terbaik, hari terendah)
Jadi 2 format (manual dan file) ini bisa dipakai semua. Versi manual, tempel di dinding, langsung update pake pulpen. Saat ada waktu di laptop/ Hp, bisa diupdate ke file Excel/Google Sheet. Atau, buat kamu yang maunya digital ya nggak perlu cetak, langsung aja update di Hp / laptop.

✅ Download dan dapatkan ini semua :
- PDF Manual
- Excel / Google Sheets
- Panduan pakai (README)
Kalau mau pakai di Google Sheets:
- upload file Excel ke Google Drive
- klik Open with → Google Sheets
Saya Terbuka untuk Masukan & Koreksi
Saya yakin tracker ini masih bisa dibuat lebih enak, lebih rapi, dan lebih bermanfaat.
Kalau kamu punya saran (atau koreksi), saya akan senang banget kalau kamu mau share.
Kontak saya aja di :
- WhatsApp: 0816870011
- Blog: www.YahyaPramana.com
Terima Kasih… dan Semoga Allah Terima Ikhtiar Kita
Terima kasih sudah membaca sampai sini.
Saya nggak tahu Ramadhan kamu akan seperti apa.
Tapi saya doakan, semoga Ramadhan kita semua jadi lebih baik—bukan cuma ramai di awal, tapi tetap hidup sampai akhir.
Semoga Allah mudahkan kita untuk menjaga sholat, menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga istiqomah.
Aamiin yaa robbal aalamiin
